Rabu, 09 Januari 2013

Museum Fatahillah



Museum yang pernah saya kunjungi adalah Museum Fatahillah yang terletak di DKI Jakarta. Museum ini memiliki banyak nama, yakni Museum Batavia dan Museum Sejarah Jakarta. Terletak di Jalan Taman Fatahillah nomer dua Jakarta Utara, gedung ini awalnya di Bandung sebagai sebuah balai kota atau stadhuis. Pembangunan gedung ini memakan waktu tiga tahun, yakni pada tahun 1707-1710. Bangunan indah ini dibangun berdasarkan perintah seorang Gubernur Jendral Belanda, Johan van Hoorn.
Balaikota ini terdiri dari sebuah bangunan utama dengan dua buah bangunan sayap sisi barat dan timurnya. Bangunan ini difungsikan sebagai kantor dan ruang pengadilan. Bangunan ini juga dilengkapi ruang bawah tanah yang merupakan penjara zaman Belanda. Baru pada tahun 1974, pemerintah Indonesia meresmikan bangunan ini sebagai museum.
Bangunan megah seluas 1.300 m2 ini terdiri dari tiga lantai. Dindingnya diwarnai dengan cat bewarna kuning tanah. Jendela serta pintunya terbuat dari kayu jati dan bewarna hijau tua. Sebuah penunjuk arah mata angin bertengger manis di bagian atap utamanya. Di sisi bangunan, terdapat kolam dan beberapa pohon tua disekelilingnya. Dari segi arsitektur, museum ini sangat mencerminkan gaya arsitektur Belanda di abad ke-17. Konon, gedung ini memang dibangun dengan desain menyerupai Istana Dam di Amsterdam, Belanda sana.
Sejarah Pendirian dan Penggunaaan Museum Fatahillah
Bangunan megah peninggalan Belanda ini, seperti telah disebutkan sebelumnya, merupakan gedung balai kota. Balai kota ini dibangun untuk menggantikan balai kota pertama yang dibangun di kawasan Kalibesar Timur pada tahun 1620. Di awal pembangunan, gedung ini hanya memeliki satu tingkat. Tingkat kedua baru dibangun beberapa waktu kemudian.
Beberapa puluh tahun kemudian, kondisi bangunan balai kota ini mulai memburuk. Tanah Jakarta yang labil dan bangunan yang terlampau berat menyebabkan bangunan mulai tenggelam dari permukaan tanah. Renovasi demi renovasi pun mulai dilakukan. Pemerintah Hindia Belanda saat itu memikirkan sebuah solusi mudah dan praktis tanpa harus mengubah  fondasi bangunan. Maka lantai bangunan ditinggikan setinggi 56 cm.
Beberapa kali gedung ini direnovasi, diperlebar, diperluas. Penambahan ruangan beberapa kali dilakukan dan penjara berkali-kali diperbaiki. Bentuk museum yang kita lihat sekarang ini merupakan bentuk akhir dari beberapa renovasi yang telah dilakukan. Yang menarik dari bangunan inia dalah penjara bawah tanahnya. Konon, di ruangan bawah tanah terdapat setidaknya 5 buah sel tahanan seluas 4 x 4 meter dengan tinggi hanya 1 meter. Ini menurunkan kesehatan mereka, belum lagi di dalam sel tidak terdapat tempat buang air. Alhasil, sebagian besar tahanan meninggal dunia akibat terserang penyakit.
Gedung balai kota ini dilengkapi sebuah lapangan luas yang dinamai “stadhuisplen”. Konon di tengah lapangan terdapat sebuah air mancur. Air mancur tersebut adalah satu-satunya sumber air bagi masyarakat yang tinggal di daerah situ. Saat pembangunan, sebuah penggalian dilakukan untuk membuat sumur tersebut dan para arsitek Belanda berusaha mengalirkan air dari Pancoran Glodok menggunakan pipa. Air mancur tersebut kemudian hancur. Baru pada tahun 1972 pemerintah Jakarta menggali dan menemukan pipa saluran air. Lantas dibuatlah air mancur yang mirip dengan air mancur zaman dahulu ditengah-tengah lapangan. Lapangan  tersebut beralih nama menjadi Taman Fatahillah.
Sebelum menjadi museum, gedung yang dahulu dibuat untuk menjadi balai kota ini sempat beberapa kali beralih fungsi. Di antaranya adalah sebagai gedung pengadilan. Di tahun 1925-1942, gedung ini dijadikan kantor pemerintah provinsi Jawa Barat. Kemudian gedung ini diambil alih oleh Jepang dan dijadikan kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Pasca-kemerdekaan, gedung ini sempat dijadikan markas Komando Militer Kota (KMK) di tahun 1952 setelah itu barulah gedung ini kembali ke tangan pemerintah Jakarta dan olehnya gedung ini direnovasi dan dijadikan museum bersejarah.

Koleksi Museum Fatahillah
          Setelah berubah fungsi menjadi museum, gedung ini dipenuhi berbagai koleksi benda bersejarah; terutama benda=benda peninggalan yang terkait dengan sejarah Jakarta. Nama “Fatahillah” sendiri diambil dari anam seorang pejuang pendirian kota Jakarta. Ia berperan dalam mengusir Portugis dari tanah Sunda Kelapa.
            Selain arsitektur bangunan yang indah dan klasik, museum fatahillah juga memiliki beberapa koleksi menarik lainnya seperti keramik dan mebel antik mulai dari abad 17 sampai 19. Bagi Anda yang sangat berminat dengan desain interior mengunjungi museum ini akan memberikan kesan tersendiri dengan melihat desian-desain di era abad ke 17. Desain interior tersebut berupa perpaduan indah antara kebudayaan Eropa, Cina, dan Batavia.
            Di museum bersejarah ini, kita juga bisa melihat perjalanan sejarah Jakarta yang dulu disebut dengan nama Batavia, kemudian replika peninggalan masa Pajajaran dan Tarumanegara yang terpajang di ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Jayakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Sultan Agung, Ruang Fatahillah dan Ruang MH.Thamrin. Kita juga bisa menelusuri koleksi kebudayaan Betawi dan sejarah becak dari masa ke masa.
            Jika ingin melihat seperti apa bentuk penjara bawah tanah yang ada saat zaman penjajahan Belanda, Kita bisa menemukannya di Museum Fatahillah, beserta meriam si Jagur yang terkenal itu dan ada juga patung Dewa Hermes. Dewa Hermes adalah Dewa perlindungan dan keberuntungan bagi kaum pedagang.
            Museum Fatahillah juga memiliki beberapa program menarik lainnya seperti kegiatan Batavia Art Festival yang diadakan setiap bulan Juni dalam rangka HUT kota Jakarta. Selain itu, ada berbagai festival budaya yang sering dilakukan juga di museum ini. Jadi sangat sayang jika kita tidak menyempatkan waktu liburan kita mengunjungi museum fatahillah di Jakarta Barat ini. Museum Fatahillah memiliki koleksi artefak 100.000, dengan skitar 26.000 item. Benda beseharah di musem Fatahillah ini adalah penginggalan zaman Belanda, baik yang berasal dari sumbangan/hibah pecinta benda kuno atau juga yang diperoleh dengan cara pembelian. Sumbangan/hibah itu biasanya dari warga Belanda yang pernah tinggal di Indonesia, atau leluhur mereka pernah menetap di sini.


MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN



1.       MASYARAKAT

Masyarakat (sebagai terjemahan istilah  society) adalah sekelompok orangyang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak . Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Yakni ia adalah sebuahkomunitasyang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Kemudian menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.

2.       KEBUDAYAAN

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal)diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin  Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Adapun menurut Pak Parsudi dalam bukunya “Hubungan Antar Sukubangsa ” mendefinisikan “Kebudayaan sebagaikeseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yangdigunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yangterdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia,dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan tindakan-tindakannya”. Sementara menurut Paul B. Horton dan C. Hunt Masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-samadalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu,mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan didalam kelompok / kumpulan manusia tersebut J. J Honigmann (dalam Koenjtaraningrat, 2000) membedakan adanyatiga ‘gejala kebudayaan’ : yaitu :

(1) ideas
(2) activitie  dan
(3) artifact 

dan ini diperjelas oleh Koenjtaraningrat yang mengistilahkannya dengantiga wujud kebudayaan :

a)      Wujud kebudayaan sebagai suatu yang kompleks dari ide-ide,gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. 

b)      Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas sertatindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.

c)      Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas sertatindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.

3.      MASYARAKAT YANG MULTIKULTURAL

Teori sosiologi klasik biasanyaselalu berfokus pada konflik-konflik sosial yang muncul di dalammasyarakat yang kurang lebih homogen. Pada 1939 Furnivall membuatterobosan baru dengan mencoba memahami dinamika dan problematikamasyarakat plural. Senda dengan pendapat ini adalah apa yang dikatakan   oleh Van den Berghe, “Secara relatif seringkali terjadi konflik diantarakelompok yang satu dengan kelompok yang lain”.

Masyarakat majemuk terbentuk dari dipersatukannya masyarakat-masyarakat suku bangsa oleh sistem nasional,yang biasanya dilakukan secara paksa (by force) menjadisebuah bangsa dalam wadah negara. Sebelum PerangDunia kedua, masyarakat-masyarakat negara jajahanadalah contoh dari masyarakat majemuk. Sedangkansetelah Perang Dunia kedua contoh-contoh darimasyarakat majemuk antara lain, Indonesia, Malaysia,Afrika Selatan, dan Suriname. Ciri-ciri yang menyolok dankritikal dari masyarakat majemuk adalah hubungan antarasistem nasional atau pemerintah nasional denganmasyrakat suku bangsa, dan hubungan di antaramasyarakat suku bangsa yang dipersatukan oleh sistemnasional. Dalam perspektif hubngan kekuatan, sistemnasional atau pemerintahan nasional adalah yang dominandan masyarakat-masyarakat suku bangsa adalahminoritas. Hubungan antara pemerintah nasional denganmasyarakat suku bangsa dalam masyarakat jajahan selaludiperantarai oleh golongan perantara, yang posisi ini dihindia Belanda dipegang oleh golongan Cina, Arab, dan Timur Asing lainnya untuk kepentingan pasar. Sedangkanpara sultan dan raja atau para bangsawan yang disukungoleh para birokrat (priyayi) digunakan untuk kepentinganpemerintahan dan penguasaan. Atau dipercayakan kepadapara bangsawan dan priyayi untuk kelompok-kelompoksuku bangsa yang digolongkan sebagai terbelakang atauprimitif.Dalam masyarakat majemuk dengan demikian adaperbedaan-perbedaan sosial, budaya, dan politik yang   dikukuhkan sebagai hukum ataupun sebagai konvensisosial yang membedakan mereka yang tergolong sebagaidominan yang menjadi lawan dari yang minoritas.

Dalam masyarakat Hindia Belanda, pemerintah nasional ataupenjajah mempunyai kekutan iliter dan polisi yangdibarengi dengan kekuatan hukum untuk memaksakankepentingan-kepentingannya, yaitu mengeksploitasisumber daya alam dan manusia. Dalam struktur hubungankekuatan yang berlaku secara nasional, dalalm penjajahanhindia Belanda terdapat golongan yang paling dominanyang berada pada lapisan teratas, yaitu orang Belanda danorang kulit putih, disusul oleh orang Cina, Arab, dan Timurasing lainnya, dan kemuian yang terbawah adalah merekayang tergolong pribumi. Mereka yang tergolong pribumidigolongkan lagi menjadi yang tergolong telah menganlperadaban dan meraka yang belum mengenal peradabanatau yang masih primitif. Dalam struktur yang berlakunasional ini terdapat struktur-struktur hubungan kekuatandominan-minoritas yang bervariasi sesuai konteks-kontekshubungan dan kepentingan yang berlaku.

Dikatakan bahwa, keberadaan kelompok minoritasselalu dalam kaitan dan pertentangannya dengan kelompok dominan, yaitu mereka yang menikmati statussosial tinggi dan sejumlah keistimewaan yang banyak.Mereka ini mengembangkan seperangkat prasangka terhadap golongan minoritas yang ada dalammasyarakatnya. Prasangka ini berkembang berdasarkanpada adanya :

a)      perasaan superioritas pada mereka yangtergolong dominan;
b)      sebuah perasaan yang secaraintrinsik ada dalam keyakinan mereka bahwa golongan minoritas yang rendah derajadnya itu adalah berbeda darimereka dantergolong sebagai orang asing;
c)      adanya klaim pada golongan dominan bahwa sebagai aksessumber daya yang ada adalah merupakan hak mereka, dandisertai adanya ketakutan bahwa mereka yang tergolongminoritas dan rendah derajadnya itu akan mengambilsumberdaya-sumber daya tersebut.


4.     DINAMIKA MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN

Untuk menganalisa secara ilmiah tentang gejala-gejala dan kejadian sosila budaya di masyarakat sebagai proses-proses yang sedan berjalan atau bergeser kita memrlukan beberapa konsep. Konsep-konsep tersebut sangat perlu untuk menganalisa proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan serta dalam sebuah penelitian antropologi dan sosiologi yang disebut dinamik sosial (social dynamic).

Konsep-konsep penting tersebut antara lain internalisasi (internalization) , sosialisasi (socialization), dan enkulturasi (enculturation). Kemudian ada juga evolusi kebudayaan (cultural evolution) yang mengamati perkembangan kebudayaan manusia dari bentuk yang sederhana hingga bentuk yang semakin lama semakin kompleks. Serta juga ada difusi (diffusion) yaiu peneybaran kebudayaan secara geografi, terbawa oleh perpindahan bangsa-bangsa di muka bumi. Proses lain adalah proses belajar unsur-unsur kebudayaan asing oleh warga suatu masyarakat, yaitu proses akulturasi (acculturation) dan asimilasi (assimilation). Akhirnya ada proses pemabahruan atau inovasi (innovation), yang berhubungan erat dengan penemuan baru (discovery dan invention).

Proses Belajar Kebudayaan Sendiri

Proses Internalisasi. Manusia mempunyai bakat tersendiri dalam gen-nya untuk mengembangkan berbagai mavam perasaan, hasrat, nafsu, serta emosi kepribadiannya. Tetapi wujud dari kepribadiannya itu sangat dipengaruhi oleh berbagai macam stimuli yang ada di sekitar alam dan lingkungan sosial dan budayanya.

Maka proses internalisasi yang dimaksud adalah proses panjang sejak seorang individu dilahirkan sampai ia hampir meninggal, dimana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala hasrat, perasaan, nafsu, serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya. Proses sosialisasi. Proses ini bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu di sekililingnya yag menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari. 

Proses Enkulturasi. Dalam proses ini seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, sistem norma, serta peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Kata enkulturasi dalam bahas Indonesia juga berarti “pembudayaan”. Sorang individu dalam hidupnya juga sering meniru dan membudayakan berbagai macam tindakan setelah perasaan dan nilai budaya yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasi dalam kepribadiannya.

Proses evolusi Sosial
Proses Microscopic dan Macroscopic Dalam Evolusi Sosial. Proses evolusi dari suatu
masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisa oleh seorang peneliti seolah-olah dari dekat secar detail (microscopic), atau dapat juga dipandang dari jauh hanya dengan memperhatiakn perubahan-perubahan yang besar saja (macroscopic). Proses evolusi sosial budaya yang dianalisa secara detail akan membuka mata seorang peneliti untuk berbagai macam proses perubahan yang terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari dalam setiap masyarakat di dunia. 
Proses-Proses Berulang dalam Evolusi Sosial Budaya. Proses ini mengenai suatu aktivitas dalam sebuah lingkunagn atau suata adat dimana aktivitas yang dilakukan terus berulang. Dan aktivitas yang dimaksud biasanya aktivitas yang menyimpang atau diluar kehendak prilaku. Namun pada suatu ketika dan sering terjadi aktivitas tersebut selalu berulang (recurent) dalam kehidupan sehari-hari disetiap masyarakat. Sampai akhirnya masyarakat tidak bisa mempertahankan adatnya lagi, karena terbiasa dengan penyimpangan-penyimpangan tersebut. Maka masyrakat terpaksa memberi konsesinya, dan adat serta aturan diubah sesuai dengan keperluan baru dari indibidu-individu didalam masyarakat.

Proses Mengarah dalam Evokusi Kebudayaan.

Dengan mengambil jangka waktu yang panjang maka akan terlihat prubahan-perubahan besar yang seolah bersifat menentukan arah (dirctional) dari sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan yang bersangkutan. Sebagai contoh misalnya tingkat kebudayaan manusia yang berawal dari Neolitik, kemudian berubah menjadi Mesoltk dan akhirnya berubah menuju Paleolitik.

Proses Difusi.

Peneyebaran Manusia. Ilmu Paleoantropologi memperkirakan bahwa manusia terjadi di daerah Sabana tropikal di Afrika Timur, dan sekarang makhluk itu sudah menduduki hampir seluruh permukaan bumi ini. Hal ini dapat diterangkan dengan dengan adanya proses pembiakan dan gerka penyebaran atau migrasi-migrasi yang disertai dengan proses adpatsi fisik dan sosial budaya.


Penyebaran Unsur-Unsur Kebudayaan.

Bersamaan dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia di muka bumi, turut pula tersebar unsur-unsur kebudayaan dan sejarah dari proses penyebaran unsur penyebaran kebudayaan seluruh penjuru dunia yang disebut proses difusi (diffusion). Salah satu bentuk difusi dibawa oleh kelompok-kelompok yang bermigrasi. Namun bisa juga tanpaadanaya migrasi, tetapi karena ada individu-individu yang membawa unsur-unsur kebudayaan itu, dan mereka adalah para pedagang dan pelaut. 
Akulturasi dan Pembauran atau Asimilasi.

Akulturasi. Poses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan demikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan dioalh kedalm kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Asimilasi adalah Proses sosial yang timbul bila ada golongan-golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbeda-beda. Kemudian saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas, dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi unsur-unsur kebudayaan yang campuran.

Pembaruan atau Inovasi

Inovasi dan Penemuan. Inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk baru. Proses inovasi sangat erat kaitannya dengan teknologi dan ekonomi. Dalam suatu penemuan baru biasanya membutuhkan proses sosial yang panjang dan melalui dua tahap khusus yaitu discovery dan invention.

Discovery adalah suatu penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru, baik berupa suatu alat baru, ide baru, yang diciptakan oleh individu atau suatu rangkaian dari beberapa individu dalam masyarakat yang bersangkutan. Discovery baru menjadi invention apabila masyarakat sudah mengakui, menerima, dan menerapkan penemuan baru itu.

Pendorong Penemuan Baru. Faktor-faktor pendorong bagi individu dalam suatu masyarakat untuk memulai dan mengembangkan penemuan-penemuan baru anatar lain :

1. Kesadaran para individu akan kekurangan dalam kebudayaan.
2. Mutu dari keahlian dalam suatu kebudayaan.
3. Sistem perangsang bagi aktivitas mencpta dalam masyarakat.


5.      MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN INDONESIA

Dinamika sosial dan kebudayaan itu, tidak terkecuali melanda masyarakat Indonesia, walaupun luas spektrum dan kecepatannya berbeda-beda. Demikian pula masyarakat dan kebudayaan Indonesia pernah berkembang dengan pesatnya di masa lampau, walaupun perkembangannya dewasa ini agak tertinggal apabila dibandingkan dengan perkembangan di negeri maju lainnya. Betapapun, masyarakat dan kebudayaan Indonesia yang beranekaragam itu tidak pernah mengalami kemandegan sebagai perwujudan tanggapan aktif masyarakat terhadap tantangan yang timbul akibat perubahan lingkungan dalam arti luas maupun pergantian generasi.

Ada sejumlah kekuatan yang mendorong terjadinya perkembangan sosial budaya masyarakat Indonesia. Secara kategorikal ada 2 kekuatan yang mmicu perubahan sosial, Petama, adalah kekuatan dari dalam masyarakat sendiri (internal factor), seperti pergantian generasi dan berbagai penemuan dan rekayasa setempat. Kedua, adalah kekuatan dari luar masyarakat (external factor), seperti pengaruh kontak-kontak antar budaya (culture contact) secara langsung maupun persebaran (unsur) kebudayaan serta perubahan lingkungan hidup yang pada gilirannya dapat memacu perkembangan sosial dan kebudayaan masyarakat yang harus menata kembali kehidupan mereka .

Betapapun cepat atau lambatnya perkembangan sosial budaya yang melanda, dan factor apapun penyebabnya, setiap perubahan yang terjadi akan menimbulkan reaksi pro dan kontra terhadap masyarakat atau bangsa yang bersangkutan. Besar kecilnya reaksi pro dan kontra itu dapat mengancam kemapanan dan bahkan dapat pula menimbulkan disintegrasi sosial terutama dalam masyarakat majemuk dengan multi kultur seperti Indonesia.




6.      PERKEMBANGAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN DEWASA INI

Masyarakat Indonesia dewasa ini sedang mengalami masa pancaroba yang amat dahsyat sebagai akibat tuntutan reformasi secara menyeluruh. Sedang tuntutan reformasi itu berpangkal pada kegiatan pembangunan nasional yang menerapkan teknologi maju untuk mempercepat pelaksanaannya. Di lain pihak, tanpa disadari, penerapan teknologi maju itu menuntut acuan nilai-nilai budaya, norma-norma sosial dan orientasi baru. Tidaklah mengherankan apabila masyarakat Indonesia yang majemuk dengan multi kulturalnya itu seolah-olah mengalami kelimbungan dalam menata kembali tatanan sosial, politik dan kebudayaan dewasa ini.
Penerapan teknologi maju

Penerapan teknologi maju untuk mempercepat pebangunan nasional selama 32 tahun yang lalu telah menuntut pengembangan perangkat nilai budaya, norma sosial disamping ketrampilan dan keahlian tenagakerja dengn sikap mental yang mendukungnya. Penerapan teknologi maju yang mahal biayanya itu memerlukan penanaman modal yang besar (intensive capital investment); Modal yang besar itu harus dikelola secara professional (management) agar dapat mendatangkan keuntungan materi seoptimal mungkin; Karena itu juga memerlukan tenagakerja yang berketrampilan dan professional dengan orientasi senantiasa mengejar keberhasilan (achievement orientation).
Tanpa disadari, kenyataan tersebut, telah memacu perkembangan tatanan sosial di segenap sector kehidupan yang pada gilirannya telah menimbulkan berbagai reaksi pro dan kontra di kalangan masyarakat. Dalam proses perkembangan sosial budaya itu, biasanya hanya mereka yang mempunyai berbagai keunggulan sosial-politik, ekonomi dan teknologi yang akan keluar sebagai pemenang dalam persaingan bebas. Akibatnya mereka yang tidak siap akan tergusur dan semakin terpuruk hidupnya, dan memperlebar serta memperdalam kesenjangan sosial yang pada gilirannya dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang memperbesar potensi konflik sosial.dalam masyarakat majemuk dengan multi kulturnya.
Keterbatasan lingkungan (environment scarcity)

Penerapan teknologi maju yang mahal biayanya cenderung bersifat exploitative dan expansif dalam pelaksanaannya. Untuk mengejar keuntungan materi seoptimal mungkin, mesin-mesin berat yang mahal harganya dan beaya perawatannya, mendorong pengusaha untuk menggunakannya secara intensif tanpa mengenal waktu. Pembabatan dhutan secara besar-besaran tanpa mengenal waktu siang dan malam, demikian juga mesin pabrik harus bekerja terus menerus dan mengoah bahan mentah menjadi barang jadi yang siap di lempar ke pasar. Pemenuhan bahan mentah yang diperlukan telah menimbulkan tekanan pada lingkungan yang pada gilirannya mengancam kehidupan penduduk yang dilahirkan, dibesarkan dan mengembangkan kehidupan di lingkungan yang di explotasi secara besar-besaran.

Di samping itu penerapan teknologi maju juga cenderung tidak mengenal batas lingkungan geografik, sosial dan kebudayaan maupun politik. Di mana ada sumber daya alam yang diperlukan untuk memperlancar kegiatan industri yang ditopang dengan peralatan modern, kesana pula mesin-mesin modern didatangkan dan digunakan tanpa memperhatikan kearifan lingkungan (ecological wisdom) penduduk setempat.

Ketimpangan sosial-budaya antar penduduk pedesaan dan perkotaan ini pada gilirannya juga menjadi salah satu pemicu perkembangan norma-norma sosial dan nilai-nilai budaya yang befungsi sebagai pedoman dan kerangka acuan penduduk perdesaan yang harus nmampu memperluas jaringan sosial secara menguntungkan. Apa yang seringkali dilupakan orang adalah lumpuhnya pranata sosial lama sehingga penduduk seolah-olahkehilangan pedoman dalam melakukan kegiatan. Kalaupun pranata sosial itu masih ada, namun tidak berfungsi lagi dalam menata kehidupan pendudduk sehari-hari. Seolah-olah terah terjadi kelumpuhan sosial seperti kasus lumpur panas Sidoarjo, pembalakan liar oleh orang kota, penyitaan kayu tebangan tanpa alas an hokum yang jelas, penguasaan lahan oleh mereka yang tidak berhak. Kelumpuhan sosial itu telah menimbulkan konflik sosial yang berkepanjangan dan berlanjut dengan pertikaian yang disertai kekerasan ataupun amuk.

Kebudayaan Jawa Tengah
jawa tengahJawa Tengah
jawa tengah adalah propinsi dimana budaya jawa banyak berkembag disini karena di jawa tengah dahulu banyak kerajaan berdiri disini itu terlihat dari berbagai peninggalan candi di jawa tengah.

mahakarya yang sungguh mempesona adalah batik di jawa tengah setiap daerah mempunya corak batik tulis yang berbeda beda mereka mempunyai ciri khas sendiri sendiri selain batik ada juga kesenian yang tak kalah luar biasanaya ada wayang kulit yang sudah dia kaui dunia sebagai warisan budaya dunia oleh unesco ada juga tembang tembang (lagu lagu ) jawa yang diiringi oleh gamelan (alat musik) yang juga dikenal dengan campursariada juga ketoprak yang merupakan pertunjukan seni peran khas dari jawa
di jawa tengah juga masih ada kerjaan yang samapai sekarang masih berdiri tepatnya dikota solo yang dikenal dengan kasunanan solo budaya jawa tengah sungguh banyak mulai dari wayang ,wayang orang, ketoprak,tari dan masih banyak lagi berikut beberapa foto terkait budaya jawa tengah :
kraton_solo_centraljava-surakarta
Kraton Solo

Jawa Tengah juga memiliki pakaian khas dari daerah ini yaitu batik jawa. Batik jawa ini juga memiliki beberapa perbedaan di dalam motif-motifnya.
batik
Batik

Jawa tengah merupakan salah satu derah paling produktif di bidang kebudayaannya, sebab sangat banyak kebudayaan yang dihasilkan dari daerah ini. Kita lihat saja dari kebudayaan tari-tariannya, jawa tengah memiliki Tari Serimpi, Tari bambangan Cakil, Tari srikandi, dll. Jawa tengah juga memiliki kebudayaan lainnya seperti rumah joglo yang merupakan ciri khas dari jawa tengah ini sebenarnya memiliki gaya arsitek yang sangat dinamis dengan lingkungannya, karena rumah joglo memiliki beberapa tiang-tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati. Rumah joglo juga memiliki keunikan tersendiri seperti memiliki pendopo untuk menerima tamu atau hanya untuk kumpul keluarga. Disetiap sudut-sudut dindingnya pun biasa dihiasi dengan ukiran-ukiran yang lebih menarik bila dilihat. Kalau dari tariannya, tarian Bambang Cakil menceritakan sebuah ksatria yang berusaha menjaga petapa dari serangan buta cakil dan akhirnya sang buta cakil meninggal ditanggan ksatria itu, sedangkan tari serimpi biasanya di mainkan oleh 4 orang penari putrid yang mencerminkan dari 4 elemen yang ada dibumi yaitu air, api, angina, dan tanah. Tarian ini juga biasanya diiringi oleh suara gamelan jawa.


ketoprak
Ketoprak
pagelaran wayang kulit
Pagelaran Wayang Kulit
tari srikandi/ tari panah
Tari Srikandi/ Tari Panah
ph_gamelan
pertujukan wayang orang
Pertujukan Wayang Orang
sinden
Sinden
tayub
Tayub
Batik
Batik
adat jawa
Adat Jawa
keris
Keris



Rabu, 07 November 2012

Ilmu Sosial Dasar



  Mata kuliah Ilmu Sosial Dasar (ISD) merupakan mata kuliah analisis atas aneka fenomena sosial masyarakat dengan segala dinamika dan implikasinya dari sudut pandang kajian dasar falsafah keilmuan. Manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak mungkin bisa memisahkan hidupnya dengan manusia lain. Sudah bukan rahasia lagi bahwa segala bentuk kebudayaan, tatanan hidup, dan sistem kemasyarakatan terbentuk karena interaksi dan benturan kepentingan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Sejak zaman prasejarah hingga sejarah, manusia telah disibukkan dengan keterciptaan berbagai aturan dan norma dalam kehidupan berkelompok mereka. Dalam kelindan berbagai keterciptaan itulah ilmu pengetahuan terbukti memainkan peranan signifikan.

        Ilmu pengetahuan tidak hanya dapat dipahami dalam arti sebuah hukum atau teori ilmiah sebagai hasil statis kegiatan utamanya. Ilmu pengetahuan harus dipandang juga sebagai sebuah proses, sebuah kegiatan, dan tentu saja sebuah kemampuan yang harus dimiliki oleh para ilmuwan. Mahasiswa yang akan diorientasikan untuk menjadi sosok ilmuwan yang peka atas permasalahan sosial kemasyarakatan diharapkan mampu larut dalam proses keterciptaan ilmu pengetahuan tersebut. Kemampuan untuk larut tersebut harus dimulai dengan mengetahui dan memahami dasar-dasar ilmu pengetahuan melalui kemampuan “membaca” berbagai hasil teori dan kajian ilmu sosial, untuk kemudian mampu melihat relevansi dan aplikasinya dengan fenomena dan problema sosial kontemporer. Pada tataran selanjutnya pemahaman itu akan menggerakkan kemampuan untuk berproses dalam keterciptaan ilmu pengetahuan. Artinya pada simpul akhir mahasiswa tidak menerima begitu saja teori dan hukum ilmiah yang telah ada, melainkan mampu melahirkan teori dan kajian-kajian atas fenomena sosial sebagai karya personal mereka. Mata kuliah ISD menjadi mata kuliah pengantar demi tujuan tersebut.

Tujuan Belajar Ilmu Sosial Dasar :

1. Mahasiswa memiliki kesiapan untuk menekuni dunia keilmuan.
2. Mahasiswa bisa mengerti dan memahami prinsip filsafaat ilmu sebagai landasan mengerti dan memahami    berbagai fenomena sosial kontemporer.
3. Mahasiswa mampu memahami berbagai konsep ilmu sosial yang akan digunakan sebagai instrumen memetakan segala problematika sosial kemasyarakatan.

A. PENGERTIAN 

        Untuk menjawab berbagai tantangan dan persoalan dalam kehidupan lahirlah berbagai cabang ilmu pengetahuan.
Berdasarkan sumber filsafat yang dianggap sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, maka ilmu pengetahuan dapat dikelompokan menjadi tiga :
1. Natural sciences (ilmu-ilmu alamiah), meliputi: Fisika, Kimia, astronomi, biologi dll
2. Sosial sciences (ilmu-ilmu social) terdiri dari: Sosiologi, Ekonomi, Politik antropologi, Sejarah, Psykologi, Geografi dll 
3. Humanities (ilmu-ilmu budaya) meliputi: Bahasa, Agama, Kesusastraan, Kesenian dll.

       Mengikuti pembagian ilmu pengetahuan seperti tersebut diatas maka Ilmu Sosial Dasar dan Ilmu Budaya Dasar adalah satuan pengetahuan yang dikembangkan sebagai usaha pendidikan. Ilmu Sosial Dasar adalah pengetahuan yang menelaah masalah masalah social khususnya yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia dengan menggunakan pengertian pengertian (fakta, konsep teori) yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan keahlian dalam lapangan ilmu ilmu social seperti: Sejarah, ekonomio, geografi social. Sosiologi, antropologi, psikologi sosial.

        Ilmu social dasar tidak merupakan gabungan dari ilmu social dasar yang dipadukan, karena ilmu social dasar tidak memiliki objek dan metode ilmiah tersendiri dan juga ia tidak mengembangkan suatu penilitian sebagaimana suatu disiplin ilmu seperti ilmu-ilmu social diatas. Ilmu sosial dasar merupakan suau bahan studi atau program pekerjaan yang khusus dirancanga untuk kepentingan atau pengerjaan yang di Indonesia diberikan di perguruan tinggi.

B. LATAR BELAKANG
 
        Banyaknya kritik sistem pendidikan di perguruan tinggi oleh para cendekiawan. Mereka berpendapat bahwa sistem pendidikan yang berlangsung masih berbau kolonial dan merupakan warisan sistem pendidikan pemerintah Belanda yaitu kelanjutan dari politik “balas budi / etische politick” (oleh Conrad Theodore van Deventer) sistem pendidikan tersebut bertujuan menghasilkan tenaga terampil untuk menjadi “tukang” yang mengisi birokrasi mereka dibidang administrasi, perdagangan, tehnik dan keahlian lain dalam tujuan eksploitasi (pemerasan) kekayaan negara. Sedangkan tenaga ahli yang dihasilkan oleh perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi tukang saja tetapi diharapkan mempunyai tiga jenis kemampuan yaitu personal, akademis dan kemampuan profesional. 

a. Kemampuan Personal (kemampuan kepribadian)
  Dengan kemampuan ini tenaga ahli diharaphan memiliki pengetahuan sehingga menunjukkan sikap dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, mengenal dan memahami nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan,kenegaraan (pancasila) serta memiliki pandangan luas serta kepekaan terhadap berbagai masaah yang dihadapi masyarakat Indonesia.

b. Kemampuan Akademik
  Adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah, baik lisan maupun tertulis, menguasai peralatan analisa, mampu berpikir logis, kritis, sistematis dan analitis. Memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi serta mampu menawarkan altematif pemecahannya.

c. Kemampuan Professional
  Adalah kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.

C. RUANG LINGKUP 

Bahan pelajaran Ilmu Sosial Dasar dapat dibedakan 3 golongan :

1. kenyataan-kenyataan social yang ada dala mmasyarakat, yang secara bersama-sama merupakan masalah social tertentu.
2. konsep-konsep social atau pengertian-pengertian tentang kenyataan-kenyataan social dibatasi pada konsep dasar atau elemnter saja yang sangat diperlukan untuk mempelajari masalah-masalah
social yang dibahas dalam Ilmu Pengetahuan Sosial
3. masalah-masalh yang timbul dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan-kenyataan social yang antara yang satu dengan yang lainnya berbeda.

Berdasarkan bahan kajian seperti yang disebut diatas, dapat dijabarkan leih lanjut ke dalam pokok bahasan dan sub pokok bahasan, untuk dapat di operasionalkan.
Ilmu Sosial Dasar terdiri dari 8 Pokok Bahasan, dari kedelapan pokok bahasan tersebut maka ruang lingkup perkuliahan Ilmu Sosial Dasar diharapkan mempelajari dan memahami adanya :

1. Berbagai masalah kependudukan dan dalam hubungan dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaan
2. Masalah individu, keluarga dan masyarakat.
3. Masalah pemuda dan sosialisasi
4. Masalah hubungan warga Negara dan Negara
5. Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat
6. Masalah masyarakat perkotaan dan pedesaan
7. Masalah pertentangan-pertentangan sosial dan integrasi
8. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarkat.

Perbedaan Ilmu Sosial Dasar & Ilmu Pengetahuan Sosial :
1.ISD mulai dipelajari di perguruan tinggi , sedangkan IPS sudah dipelajari sejak tingkat SD dan Lanjutan.
2.ISD merupakan mata kuliah tunggal , sedangkan IPS merupakan gabungan dari beberapa mata pelajaran.
3.ISD untuk pembentukan sikap dan kepribadian , sedangkan IPS untuk pembentukan pengetahuan & ketrampilan.

D. MASALAH SOSIAL

       Masalah yang dihadapi tidaklah sama, disebabkan karena perbedaan tingkat perkembangan kebudayaan masyarakat dan keadaan lingkungan alam. Masalah tersebut dapat berupa sosial, politik, moral dll. Yang membedakan masalah ini ada hubungannya dengan nilai moral dan pranata sosial.
1. Menurut masyarakat, segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umumadalah masalah sosial.
2. Menurut para ahli, suatu kondisi yang terwujud dalam masyarakat berdasarkan atas studi, mempunyai sifat yang menimbulkan kekacauan.

     Masalah sosial muncul sejak peradaban manusia karena dianggap mengganggu kesejahteraan hidup. Dan membuat masyarakat untuk mengedintifikasi, menganalisa cara untuk mengatasinya.

    ISD menyajikan pemahaman mengenai hakikat manusia sebagai makhluk sosial dan masalahnya dengan menggunakan kerangka pendekatan. Dengan menggunakan kacamata obyektif berarti, konsep dan teori yang berhubungan dengan hakikat manusia dan masalahnya telah dikembangkan dalam ilmu sosial dan digunakan. Sedangkan menurut kacamata subyektif masalah yang dibahas akan dikaju menurut perspektif masyarakat yang bersangkutan